<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wanna be Better</title>
	<atom:link href="http://thesystemseeker.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesystemseeker.wordpress.com</link>
	<description>If the followers of Muhammad are Wahhabi, I declare that I am a Wahhabi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Nov 2011 15:14:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='thesystemseeker.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Wanna be Better</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://thesystemseeker.wordpress.com/osd.xml" title="Wanna be Better" />
	<atom:link rel='hub' href='http://thesystemseeker.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/29/syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/29/syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 03:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Nasabnya: Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wuhaibi At Tamimy. Kelahirannya: Beliau dilahirkan di kota &#8216;Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H. Pendidikannya: Beliau belajar Al Qur&#8217;anul Karim kepada kakek dari pihak ibunya, yaitu Abdurahman bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah sampai hafal, selanjutnya beliau belajar Khath, berhitung dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=79&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasabnya: Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wuhaibi At Tamimy.<br />
Kelahirannya: Beliau dilahirkan di kota &#8216;Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H.<br />
Pendidikannya: Beliau belajar Al Qur&#8217;anul Karim kepada kakek dari pihak ibunya, yaitu Abdurahman bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah sampai hafal, selanjutnya beliau belajar Khath, berhitung dan sastra. <span id="more-79"></span></p>
<p>Seorang ulama besar, Syaikh Abdurahman As Sa&#8217;dy Rahimahullah telah menunjuk dua orang muridnya agar mengajar anak-anak kecil, masing-masing adalah Syaikh Ali Ash Shalihy dan Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al Muthawwa&#8217;. Kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz inilah beliau belajar kitab Mukhtasharul Aqidah Al Wasithiyah dan Minhaajus Saalikin Fil Fiqhi, keduanya karya Syaikh Abdurahman As Sa&#8217;dy dan Al Ajrumiyah serta Al Alfiyah. </p>
<p>Lalu kepada Syaikh Abdurrahman bin Ali &#8216;Audan beliau belajar Fara&#8217;idh dan Fiqih.<br />
Kepada Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa&#8217;dy yang dikategorikan sebagai Syaikhnya yang utama beliau belajar kitab Tauhid, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Fara&#8217;idh, Musthalahul Hadits, Nahwu dan Sharaf. </p>
<p>Syaikh Utsaimin memiliki tempat terhormat dalam pandangan Syaikhnya, hal ini terbukti di antaranya ketika ayahanda beliau pindah ke Riyadh pada masa awal perkembanganya dan ingin agar anaknya, Muhammad Al Utsaimin pindah bersamanya. Maka Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;dy (sang guru) menulis surat kepada ayahanda beliau: &#8220;Ini tidak boleh terjadi, kami ingin agar Muhammad tetap tinggal di sini sehingga dia bisa banyak mengambil manfaat.&#8221; </p>
<p>Berkomentar tentang Syaikh tersebut, Syaikh Utsaimin mengatakan: &#8220;Syaikh As Sa&#8217;dy sungguh banyak memberi pengaruh kepada saya dalam hal methode mengajar, memaparkan ilmu serta pendekatannya kepada para siswa melalui contoh-contoh dan substansi-substansi makna. Beliau juga banyak memberi pengaruh kepada saya dalam hal akhlak. Syaikh As Sa&#8217;dy Rahimahullah adalah seorang yang memiliki akhlak agung dan mulia, sangat mendalam ilmunya serta kuat dan tekun ibadahnya. Beliau suka mencandai anak-anak kecil, pandaimembuat senang dan tertawa orang-orang dewasa. Syaikh As Sa&#8217;dy adalah orang yang paling baik akhlaknya dari orang-orang yang pernah saya lihat.&#8221; </p>
<p>Syaikh Utsaimin juga belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz Hafizhahullah, Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah guru kedua beliau, setelah Syaikh As Sa&#8217;dy. Kepada Syaikh Bin Baz beliau belajar kitab Shahihul Bukhari dan beberapa kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab-kitab Fiqih. </p>
<p>Mengomentari Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsamin mengatakan: &#8220;Syaikh Bin Baz banyak menpengaruhi saya dalam hal perhatian beliau yang sangat intens terhadap hadits. Saya juga banyak terpengaruh dengan akhlak beliau dan kelapangannya terhadap sesama manusia.&#8221; </p>
<p>Pada tahun 1371 H, beliau mulai mengajar di masjid. Ketika dibuka Ma&#8217;had Ilmi, beliau masuk tahun 1372 H, Syaikh Utsaimin mengisahkan: &#8220;Saya masuk Ma&#8217;had Ilmi pada tahun kedua (dari berdirinya Ma&#8217;had) atas saran Syaikh Ali Ash Shalihy, setelah sebelumnyamendapat izin dari Syaikh Sa&#8217;dy. Ketika itu Ma&#8217;had Ilmi dibagi menjadi dua bagian: Umum dan Khusus, saya masuk ke bagian Khusus, saat itu dikenal pula dengan sistem loncat kelas. Yakni seorang siswa boleh belajar ketika liburan panjang dan mengikuti tes kenaikan di awal tahun. Jika lulus dia boleh di kelas yang lebih tinggi. Dengan sistem itu saya bisa menghemat waktu.&#8221; </p>
<p>Setelah dua tahun menamatkan belajar di Ma&#8217;had Ilmi, beliau lalu ditunjuk sebagai guru di Ma&#8217;had ilmi &#8216;Unaizah sambil melanjutkan kuliah di Fakultas Syari&#8217;ah dan tetap juga belajar di bawah bimbingan Abdurahman As Sa&#8217;dy Rahimahullah. </p>
<p>Ketika As Sa&#8217;dy wafat beliau ditetapkan sebagai Imam Masjid Jami&#8217; di &#8216;Unaizah, mengajar di Maktabah &#8216;Unaizah Al Wathaniyah dan masih tetap pula mengajar di Ma&#8217;had Ilmi. Setelah itu beliau pindah mengajar di Cabang Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud Qashim pada fakultas Syari&#8217;ah dan Ushuluddin hingga sekarang. Kini beliau menjadi anggota Hai&#8217;atu Kibaril Ulama (di Indonesia semacam MUI, pent.) Kerajaan Saudi Arabia. Syaikh Utsaimin memiliki andil besar di medan dakwah kepada Allah Azza wa Jalla, beliau selalu mengikuti berbagai perkembangan dan situasi dakwah di berbagai tempat. </p>
<p>Perlu dicatat, bahwa Yang Mulia Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah telah berkali-kali menawarkan kepada Syaikh Utsaimin untuk menjadi qadhi (hakim), bahkan telah mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan beliau sebagai Ketua Mahkamah Syari&#8217;ah dikota Ihsa&#8217; , tetapi setelah melalui berbagai pendekatan pribadi, akhirnya Mahkamah memahami ketidaksediaan Syaikh Utsaimin memangku jabatan ketua Mahkamah . </p>
<p>Karya-karya beliau:Syaikh Utsaimin Hafizhahullah memiliki karangan lebih dari 40 buah. Di antaranya berupa kitab dan risalah. Insya Allah semua karya beliau akan dikodifikasikan menjadi satu kitab dalam Majmu&#8217;ul Fatawa war Rasa&#8217;il.<br />
(alsofwah.or.id)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=79&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/29/syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Bin Baz</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/29/syaikh-bin-baz/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/29/syaikh-bin-baz/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 03:05:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baaz rahimahullah dilahirkan di kota Riyadh pada tanggal 12 Dzul Hijjah tahun 1330 H, dari keluarga yang sebagian besar kaum lelakinya bergelut dalam dunia keilmuan. Pada mulanya beliau bisa melihat, kemudian pada tahun 1336 H, kedua matanya menderita sakit, dan mulai melemah hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=77&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baaz rahimahullah dilahirkan di kota Riyadh pada tanggal 12 Dzul Hijjah tahun 1330 H, dari keluarga yang sebagian besar kaum lelakinya bergelut dalam dunia keilmuan. </p>
<p>Pada mulanya beliau bisa melihat, kemudian pada tahun 1336 H, kedua matanya menderita sakit, dan mulai melemah hingga akhirnya pada bulan Muharram tahun 1350 kedua matanya mulai buta. <span id="more-77"></span></p>
<p>Pendidikannya lebih banyak tertuju pada pelajaran Al-Qur&#8217;an dan Hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Beliau tumbuh dalam peliharaan salah seorang keluarganya. Al-Qur&#8217;an merupakan pelita yang menerangi hidupnya, sehingga umurnya dipergunakan untuk menimba ilmu Al-Qur&#8217;an, dan beliau hafal Al-Qur&#8217;an secara menyeluruh ketika beliaumasih kecil,belum mencapai usia baligh. </p>
<p>Beliau belajar ilmu-ilmu syar&#8217;i dari para ulama besar di Riyadh, seperti Syaikh Sa&#8217;d binb athiq dan Syaikh Hamd bin Faris dan Syaikh Sa&#8217;d bin Waqqash Al-Bukhari dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Syaikh -semoga Allah merahmati mereka-, beliau terus menimba ilmu hingga mulai terpandang di kalangan para ulama. </p>
<p>Beliau pernah menjadi Qadhi mulai bulan Jumadats Tsaniah tahun 1357 hingga tahun 1371.<br />
Selanjutnya pada tahun 1372 beliau mengajar di Ma&#8217;had Ilmi di Riyadh selama setahun kemudian pindah ke Fakultas Syariat Di Riyadh mengajar Ilmu Fiqih, Tauhid dan Hadits selama tujuh tahun, semenjak didirikannya fakultas ini hingga tahun 1380. </p>
<p>Pada tahun 1381 beliau ditunjuk menjadi wakil rektor Jamiah Islamiyah di Madinah Al Munawwarah, dan menempati posisinya tersebut hingga tahun 1390. Selanjutnya pada mulai tahun itu hingga tahun 1395 beliau menjadi rektor Jami&#8217;ah Islamiyah. </p>
<p>Pada tanggal 14/10/1395 terbit keputusan kerajaan yang menunjuk Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah sebagai mufti besar (Semacam ketua MUI) untuk negara Saudi Arabia dan sebagai ketua ikatan para ulama serta ketua idarah buhuts ilmiyah wal ifta&#8217; yang setingkat dengan kedudukan mentri, hingga beliau meninggal. </p>
<p>Beliau juga banyak berkecimpung di berbagai lembaga dan majlis ilmiah islamiyah, di antaranya sebagai ketua ikatan para ulama, ketua majlis pendiri rabithah &#8216;alam islamy, ketua lembaga internasional yang mengurusi masjid dan ketua mujamma&#8217; fiqhy islamy di Mekkah Al Mukarramah. Beliau juga sebagai anggota lembaga tinggi Jami&#8217;ah Islamiyah di Madinah Al Munawwarah, anggota lembaga tinggi dakwah Islam, anggota majlis syuro untuk WAMY (Ikatan Pemuda Islam Internasional) dan beberapa keanggotaan yang lain. </p>
<p>Beliau juga beberapa kali mengetuai berbagai mu&#8217;tamar internasional yang diadakan di negra Saudi Arabia, yang merupakan sarana bagi beliau untuk saling tukar pendapat dan fikiran dengan beberapa ulama, da&#8217;i dan pemikir lainnya dari berbagai belahan dunia. </p>
<p>Meski beliau disibukkan dengan berbagai kegiatan tersebut, beliau tidak lupa tugas utamanya sebagai seorang alim dan da&#8217;i. Beliau telah menulis berbagai karangan dan buku-buku, di antaranya: Al Fawa&#8217;id Al Jaliyyah fil Mabahits Al Fardhiyyah, At Tahqiq wal Idhah likatsir min masailil Hajj wal Umrah waz Ziyarah, At Tahdzir minal Bida&#8217;, Ar Risalatanil Mujazatani fiz Zakat wash Shiyam, Al Akidatul Mujazah, Wujubul Amal Bisunnatir Rasul, Ad Da&#8217;wah Ilal-llaah, Shifatud Da&#8217;iyah, Wujubu Tahkimi Syar&#8217;illaahi. Hukmus Sufur Wal Hijab, Nikahus Syighar, Tsalatsu Rasail Fish Shalat, Hukmul Islam Fiiman Tha&#8217;ana fil Qur&#8217;an Aw Fii Rasulillah, Hasyiyah Mufidah Ala Fathil Bari, Iqamatul Barahin ala Hukmi Manista&#8217;ana Bighairillaah Aw Shaddaqal Kuhhan wal Arrafin, Al Jihad fii Sabilillah, Wujubu Luzumis Sunnah Wal Hadzru Minal Bid&#8217;ah, dan berbagaimacam fatwa-fatwa dan tulisan-tulisan lainnya. </p>
<p>Beliau juga mempunyai berbagai kegiatan dakwah dan kepedualian terhadap berbagai urusan orang-orang muslimin, di antaranya sumbangan beliau kepada berbagai yayasan-yayasan Islam dan lembaga-lembaga Islam lainnya yang ada di berbagai belahan dunia. Beliau juga sangat peduli dengan permasalahan tauhid dan berbagai kerancuan yang terjadi pada masyarakat muslim. Lebih khusus lagi, beliau sangat memperhatikan mengenai pangajaran hafalan Al-Qur&#8217;an dan senantiasa menganjurkan kepada berbagai lembaga untuk mengadakan program tahfidz A-Qur&#8217;an. </p>
<p>Beliau telah banyak memberikan berbagai pelajaran dan muhadharah Islamiyah untuk menanamkan pemahaman Islam yang benar kepada kaum muslimin. Beliau juga telah menulis berbagai makalah dalam majallah Al Buhuts Al Islamiyah. </p>
<p>Pada tahun 1402 Yayasan Sosial Malik Faishal menganugerahkan trophy Internasional Raja Faishal kepada beliau atas jasa-jasa beliau kepada Islam.<br />
(alsofwah.or.id)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=77&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/29/syaikh-bin-baz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sikap Salah terhadap Imam Empat</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/sikap-salah-terhadap-imam-empat/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/sikap-salah-terhadap-imam-empat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Imam empat madzhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi&#8217;i dan Imam Ahmad bin Hanbal merupakan sosok di antara imam mujtahid terdepan bagi kaum muslimin. Melalui mereka umat Islam mendapatkan keberkahan ilmu yang melimpah, sehingga ajaran Islam tersebar di penjuru dunia, meskipun di antara mereka terdapat perbedaan pendapat dalam berijtihad. Namun sayang, kaum muslimin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=73&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Imam empat madzhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi&#8217;i dan Imam Ahmad bin Hanbal merupakan sosok di antara imam mujtahid terdepan bagi kaum muslimin. Melalui mereka umat Islam mendapatkan keberkahan ilmu yang melimpah, sehingga ajaran Islam tersebar di penjuru dunia, meskipun di antara mereka terdapat perbedaan pendapat dalam berijtihad. </p>
<p>Namun sayang, kaum muslimin yang tidak faham tentang Islam terkadang beranggapan, bahwa perbedaan pendapat para imam itu dianggap sebagai perbedaan hakiki. Sehingga ada kalanya menyebabkan gesekan dan perpecahan antar kaum muslimin pendukung madzhab satu dengan yang lain, yang andaikan para imam itu tahu tentu akan melarang dan mencela hal tersebut. <span id="more-73"></span></p>
<p>Untuk itu perlu kiranya dijelaskan kepada kaum muslimin tentang beberapa kekeliruan sikap mereka terhadap para imam madzhab empat. Dengan demikian kita telah bersikap proporsional dan adil terhadap mereka dan meletakkan persoalan pada tempat nya. Di antara kekeliruan yang perlu untuk diluruskan terkait dengan sikap kita terhadap imam yang empat adalah: </p>
<p>Pertama; Adanya Beberapa Madzhab Difahami sebagai Perbedaan Aqidah </p>
<p>Sebagian kaum muslimin mengira bahwa adanya beberapa madzhab adalah merupakan gambaran dari perbedaan dalam masalah aqidah. Sebenarnya salah paham ini termasuk masalah klasik, karena pada masa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ada seseorang yang mengajukan pertanyaan, meminta kepada beliau untuk menjelaskan masalah-masalah aqidah yang sesuai dengan madzhab asy-Syafi&#8217;i (Ibnu Taimiyah dikenal bermadzhab Hanbali-red). Maka Syaikh menjawab, &#8220;Madzhab asy-Syafi&#8217;i (dalam aqidah) adalah madzhab seluruh imam, dan madzhab para imam adalah apa yang telah dipegang oleh para shahabat dan pengikut mereka yang setia, yaitu segala yang ada dalam al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah.&#8221; Dan dalam sebuah dialog yang membicarakan kitab &#8220;Aqidah Wasithiyah&#8221;, seorang hakim yang hadir bertanya kepada Syaikhul Islam, &#8220;Anda telah mengarang kitab tentang aqidah Imam Ahmad, sehingga anda katakan ini adalah i&#8217;tiqad Imam Ahmad.&#8221; Maka Syaikh menjawab bahwa aqidah tersebut adalah aqidahnya para Imam dan salaful ummah yang mereka warisi dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam , maka aqidah ini adalah aqidah Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam.&#8221; </p>
<p>Dan di masa ini, salah paham terhadap perbedaan pendapat para imam bukan hanya menimpa individu muslim saja, namun lebih dari itu telah merambah pada tingkat publikasi dan penyebaran pemahaman yang keliru. Bahkan sampai tingkat mendirikan sebuah markas, pencetakan kitab-kitab, dan penerbitan berbagai makalah yang berlandaskan pada kesalahpahaman. Seperti adanya lembaga &#8220;Dar at-Taqrib&#8221; di Mesir yang telah menerbitkan sebuah kitab dengan judul &#8220;Mas&#8217;alatu at-Taqrib&#8221;. Misi dan visi dari lembaga itu intinya adalah penyejajaran enam madzhab, Hanafi, Maliki, asy-Syafi&#8217;i, Hanbali, az-Zaidi dan Itsna &#8216;Asyari (dua yang disebut terakhir adalah rafidah/syi&#8217;ah). Mereka hendak menyejajarkan antara imam empat dengan firqah bid&#8217;ah yang menyelisihi as-Sunnah dalam aqidah. Ini merupakan penipuan yang sangat besar, bagaimana bukan penipuan sedangkan mereka telah menciptakan khilaf (dalam aqidah) yang tidak pernah terjadi. Seluruh imam madzhab fikih (madzhab empat) tidak pernah menyediakan tempat sedikitpun bagi mereka untuk berpecah belah. </p>
<p>Lain dari pada itu, penyejajaran dengan firqah bid&#8217;ah tersebut secara tidak langsung merupakan klaim bahwa perbedaan antar imam empat adalah perbedaan dalam masalah aqidah/ushuluddin. Maka terkesan bagi sebagian orang bahwa perbedaan antara madzhab Hanbali dengan Syafi&#8217;i atau Maliki atau Hanafi adalah sama dengan perbedaan mereka dengan rafidhah. Jadi mereka menjadikan perbedaan ijtihadiyah sama dengan perbedaan aqidah, dan mungkin masih banyak umat Islam yang punya pemahaman demikian. </p>
<p>Atau kalau tidak, hal itu akan mengesankan bahwa tidak ada perbeda an yang berarti antara rafidhah dengan Imam ahlussunnah yang empat dalam masalah aqidah. Dan kalau toh ada perbedaan, maka hanya dalam masalah sepele saja dalam hal furu&#8217; (cabang), sehingga umat Islam secara umum menyangka bahwa aqidah batilnya kaum rafidhah adalah juga haq (benar). Ini merupakan bentuk menghukumi kebatilan dengan kebenaran, dan menutup pintu hidayah bagi orang-orang awam rafidhah yang tertipu, sehingga mereka (kaum rafidhah) berkeyakinan bahwa apa yang diyakini oleh ahlussunnah tidak berbeda dengan keyakinan mereka, akhirnya mereka kaum rafidhah bila bertanya tentang kekeliruan mereka bukan lagi kepada kaum ahlissunnah. Atau jika mereka mengeluhkan kekeliruan pemikiran dan keyakinan mereka yang bertentang an dengan fitrah maka dikatakan bahwa kekeliruan berpikir juga terjadi pada ahlissunnah. </p>
<p>Di dalam anggaran dasar Jama&#8217;ah Taqrib ini, pada butir ke dua disebutkan bahwa tujuan lembaga adalah untuk menyatukan kalimat para pemilik madzhab Islamiyah (termasuk syi’ah-pen) yang mana -menurut jama&#8217;ah tersebut- mereka berbeda pendapat hanya dalam masalah yang tidak menyentuh pada keyakinan-keyakinan yang wajib untuk diimani. </p>
<p>Perhatikan kesalahan fatal mereka yang tidak membedakan antara istilah madzhab dengan firqah atau thaifah. Madzhab hanyalah pendapat yang terkait dengan masalah fikih ijtihadiyah dan masih dalam lingkup ahlussunnah, sementara syi&#8217;ah adalah firqah, kelompok atau thaifah tersendiri di luar ahlissunnah. Jelas salah fatal ketika mereka menyebut sebagai pendekatan atau penyatuan madzhab enam, yaitu empat madzhab sunnah(Hanafi,Maliki, Syafi&#8217;i dan Hanbali) serta dua kelompok atau firqah (Zaidiyah dan Syi&#8217;ah Itsna &#8216;Asyariyah). </p>
<p>Oleh karena itu umat Islam jangan sampai punya persangkaan bahwa perbedaan pendapat antara imam empat merupakan perbedaan dalam masalah aqidah dan keyakinan, sebagaimana perbedaan yang terjadi antara syi&#8217;ah dengan ahlissunnah. Seluruh imam empat aqidahnya sama dan satu, maka madzhab para imam ahlussunnah, termasuk empat imam tidak perlu lagi terhadap ajakan penyatuan, karena mereka tidak pernah berpecah belah. Dengan kata lain, sejak awal mereka memang telah bersatu hingga akhir hayat mereka </p>
<p>Maka tidak diragukan lagi seruan untuk menyatukan imam madzhab yang empat adalah seruan keliru, dan merupakan bentuk mengusahakan sesuatu yang telah berhasil alias kesia-siaan belaka. Imam empat adalah satu keluarga dalam pengabdian mereka terhadap agama. Mereka semua rujuk terhadap al-Kitab, as-Sunnah, dan berhujjah dengan ijma&#8217; dan qiyas sehingga fikih Islam menjadi matang di tangan mereka. </p>
<p>Kemudian klaim mereka bahwa perbedaan antar imam empat dengan zaidiyah dan itsna asyariyah hanya dalam masalah yang tidak menyentuh aqidah, maka hal itu tidak sesuai dengan fakta. Orang-orang rafidhah mengafirkan siapa saja yang tidak meyakini imam mereka yang dua belas, artinya ahlussunnah adalah berbeda di mata mereka dalam masalah aqidah. Kemudian sikap orang syiah terhadap al-Qur&#8217;an dan as Sunnah, ijma&#8217; shahabat dan semisalnya, apa hal itu tidak terkait dengan akidah? </p>
<p>Ke dua; Anggapan bahwa Perbedaan Tanawwu&#8217; (variatif) Para Imam adalah Perpecahan. </p>
<p>Sebagian kaum muslimin tidak dapat memisahkan antara ikhtilaf tanawwu&#8217; (variasi) dengan ikhtilaf tadhad (pertentangan) sehingga perbedaan yang terjadi antar imam empat dianggapnya sebagai perbedaaan yang mengharuskan perpecahan dan perselisihan. Padahal antara kedua ikhtilaf ini terdapat perbedaan yang sangat jauh, yaitu: </p>
<p>-Ikhtilaf tanawwu&#8217; (variasi) bukanlah ikhtilaf hakiki. Oleh karena itu tidak selayaknya menimbulkan perpecahan dan perselisihan, karena masing-masing pendapat adalah benar. Di antara bentuk perbedaan tanawwu&#8217; adalah sebagai berikut:<br />
•	Perbedaan dalam lafal dan ungkapan ketika menafsirkan suatu nash tertentu.<br />
•	Perbedaan ketika menyebutkan sifat, jenis atau macam.<br />
•	Perbedaan dalam mengambil pelajaran dari sebuah teks dalil.<br />
Semua yang tersebut di atas merupakan sebagian contoh dari ikhtilaf tanawwu&#8217;. Demikian pula ikhtilaf dalam masalah ijtihadiyah sebagaimana yang terjadi pada imam yang empat.<br />
-Ikhtilaf tadhad adalah perbedaan pendapat yang saling bertentangan sehingga kedua pendapat tersebut saling menafikan atau menolak, maka salah satu di antara keduanya tidak diragukan lagi pasti ada yang salah. </p>
<p>Ke tiga; Berhujjah dengan Sebagian Pengikut Imam lalu Menisbatkan kepada Sang Imam. </p>
<p>Sebagian orang ada yang mengambil perkataan atau pendapat pengikut imam empat, lalu menisbatkan ucapan atau pendapat tersebut kepada sang imam madzhab. Orang yang melakukan itu kebanyakan para mubtadi&#8217;ah (pelaku bid&#8217;ah) yang hobi menyebarkan isu-isu dan fitnah di dalam barisan kaum muslimin. Mereka melakukan talbis (kamuflase) di hadapan umat Islam, sedangkan mereka tidak memiliki satu hujjah pun dalam masalah tersebut. Mereka nisbatkan secara langsung suatu perkataan atau pendapat kepada Imam yang bersangkutan, padahal yang berpendapat adalah pengikutnya. </p>
<p>Ada juga sebagian orang yang menisbatkan dirinya sebagai pengikut imam tertentu dalam masalah furu&#8217;lalu merambah kepada masalah aqidah, padahal aqidahnya berbeda dengan sang imam. Mereka disebut atau menyatakan diri sebagai Hanafi, Maliki, Syafi&#8217;i atau Hanbali namun ternyata aqidahnya berbeda dengan para imam itu. Mereka seakan-akan ingin mendongkrak pamornya dengan menisbatkan diri kepada salah satu imam, atau paling tidak hal itu untuk mencari pembenaran atas kekeliruan nya dengan mencatut nama besar para imam, dan ini adalah suatu kezhaliman. </p>
<p>Maka tidak mengherankan jika ada orang yang menisbatkan diri sebagai Hanafi (pengikut imam Abu Hanifah) namun ternyata dia seorang karamiyah mujassimah ( yang menyamakan sifat Allah dengan fisik makhluk), ada pula orang yang menisbatkan diri kepada imam Ahmad atau imam asy-Syafi&#8217;i namun ternyata dia adalah musyabbihah atau mujassimah. Di antara orang yang menisbatkan diri kepada Malikiyah juga ternyata ada yang mu&#8217;athilah (menolak sifat Allah) dan lain sebagainya. </p>
<p>Ahlussunnah bukanlah penisbatan diri kepada imam empat, namun dengan mengikuti al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah serta ijma&#8217;. Meskipun seseorang tidak menyatakan diri sebagai pengikut imam tertentu, kalau dia beramal sesuai dengan tuntunan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah serta mengikuti petunjuk para salaf dan imam maka dia adalah ahlussunnah. Iman bukan sekedar angan-angan dan bangga dengan seseorang namun iman adalah keyakinan hati dan pembuktian dengan amal perbuatan. </p>
<p>Sumber: “Ushul ad-Din ‘indal Aimmah al-Arba’ah Wahidah”,DR.Nashir bin Abdullah al-Qifari (hal 50-54).(Khalif) diambil dari Artikel Buletin An-Nur (alsofwah.or.id)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=73&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/sikap-salah-terhadap-imam-empat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam AsySyafi&#8217;i : Pembelannya Terhadap As Sunnah</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/imam-asysyafii-pembelannya-terhadap-as-sunnah/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/imam-asysyafii-pembelannya-terhadap-as-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya, tidak ada seorang pun yang diberi kemudahan oleh Allah di dalam menuntut ilmu, yang tidak mengetahui sosok satu ini. Sosok salah seorang ulama di antara empat madzhab terkenal di muka bumi ini, bila tidak dikatakan, yang paling menonjol dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan ulama madzhab lainnya. Dialah, Imam Asy-Syafi’i yang madzhabnya lahir setelah melewati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=70&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya, tidak ada seorang pun yang diberi kemudahan oleh Allah di dalam menuntut ilmu, yang tidak mengetahui sosok satu ini. Sosok salah seorang ulama di antara empat madzhab terkenal di muka bumi ini, bila tidak dikatakan, yang paling menonjol dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan ulama madzhab lainnya. <span id="more-70"></span></p>
<p>Dialah, Imam Asy-Syafi’i yang madzhabnya lahir setelah melewati fase pematangan dari dua madzhab sebelumnya yang boleh dikatakan berbeda pandangan di dalam banyak hal. </p>
<p>Tulisan sederhana di dalam lembaran terbatas ini, dimaksudkan agar kita dapat mengenal lebih dekat lagi terhadap sosok yang ulama satu ini, terutama tentang pembelaan beliau terhadap sunnah Rasulullah, sehingga mereka yang selalu menisbatkan dirinya kepada beliau dapat mengeta-hui secara persis sosok beliau dan tidak hanya sekedar menyatakan bermadz-hab ‘Syafi’i’ alias menisbatkan pendapat-nya kepada beliau, tetapi jauh dari sikap beliau di dalam berpegang teguh kepada As-Sunnah dan memberantas bid’ah. </p>
<p>Dengan begitu, kita telah memberikan hak beliau sebagaimana layaknya dan tidak menzhalimi apalagi menisbatkan diri kepadanya secara dusta. </p>
<p>Di sini juga perlu dipilah antara istilah madzhab Asy-Syafi’i (dinisbat-kan kepada Imam Asy-Syafi’i, sang Imam) dan madzhab Asy-Syafi’iyyah (dinisbatkan kepada pendapat para pengikut Imam Asy-Syafi’i dan belum tentu pendapat sang Imam). </p>
<p>Biografi Singkat Imam Asy-Syafi’i </p>
<p>Beliau bernama Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hasyim bin ‘Abdul Muththalib bin ‘Abdi Manaf. Jadi, dari sisi nasab, bertemu dengan nasab Rasulullah. Karena itu pula, beliau sering dijuluki dengan “Al-Imam Al-Muththalib Al-Hasyimiy Al-Qurasyi”. </p>
<p>Dilahirkan pada tahun 150 H di kota Ghazzah (Gaza) di Palestina, yaitu tepat di tahun wafatnya salah seorang Imam empat madzhab lainnya, Abu Hanifah. </p>
<p>Ayah beliau meninggal saat beliau masih di ayunan, sehingga tumbuh di dalam kondisi yatim dan faqir. Sedangkan ibunya, berasal dari suku Azd, salah satu suku di Yaman. Beliau wafat di Mesir pada tahun 204 H. </p>
<p>Pembelaannya terhadap As-Sunnah </p>
<p>Imam Asy-Syafi’i dijuluki oleh kalangan Ahlu Al-Hadits sebagai Nashir As-Sunnah (pembela As-Sunnah). Ini tentu saja merupakan penghargaan tertinggi terhadap sosok beliau dan bukan hanya sekedar simbol belaka. Sikap, ucapan dan karya-karya tulis beliau menjadi saksi untuk itu. </p>
<p>Di masa hidup beliau, timbul bermacam-macam aliran keagamaan yang mayoritas selalu menyerang As-Sunnah. Mereka dapat dibagi menjadi tiga kelompok: Pertama, mengingkari As-Sunnah, secara keseluruhan. Ke dua, tidak menerima As-Sunnah kecuali bila semakna dengan Al-Qur’an. Ke tiga, menerima As-Sunnah yang mutawatir saja dan tidak menerima selain itu alias menolak Hadits Ahad. </p>
<p>Beliau menyikapi ketiga kelompok tersebut dengan tegas. Terhadap kelompok pertama, beliau menyatakan bahwa tindakan mereka tersebut amat berbahaya karena dengan begitu rukun Islam, seperti shalat, zakat, haji dan kewajiban-kewajiban lainnya menjadi tidak dapat dipahami bila hanya berpijak kepada makna global dari Al-Qur’an kecuali dari makna secara etimologisnya saja. Demikian pula terhadap kelompok ke dua, bahwa implikasinya sama saja dengan kelompok pertama. </p>
<p>Sedangkan terhadap kelompok ke tiga, beliau membantah pendapat mereka dengan argumentasi yang valid (tepat) dan detail terperinci. Di antara bantahan tersebut adalah sebagai berikut:<br />
•	Di dalam mengajak kepada Islam, Rasulullah mengirim para utusan yang jumlahnya tidak mencapai angka mutawatir. Maka bila memang angka mutawatir tersebut urgen sekali, tentu Rasulullah tidak merasa cukup dengan jumlah tersebut sebab pihak yang dituju oleh utusan tersebut juga memiliki hak untuk menolak mereka dengan alasan tidak dapat memperca-yai dan mengakui berita yang dibawa oleh mereka. </p>
<p>•	Bahwa di dalam peradilan perdata dan pidana yang terkait dengan harta, darah dan nyawa harus diperkuat oleh dua orang saksi padahal yang menjadi landasannya adalah khabar (hadits) yang diriwayatkan oleh jumlah yang tidak mencapai angka mutawatir alias Hadits Ahad, tetapi meskipun demi-kian, Asy-Syari’ (Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala ) tetap mewajibkan hal itu. </p>
<p>•	Nabi membolehkan orang yang mendengar darinya untuk menyampai-kan apa yang mereka dengar tersebut, meskipun hanya oleh satu orang saja. Beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, </p>
<p>•	“Mudah-mudahan Allah memperbaiki akhlaq dan derajat seseorang (seorang hamba) yang mendengar hadits dari kami lantas menghafalnya hingga menyampaikannya”. (H.R. Abu Daud) </p>
<p>•	Para shahabat menyampaikan hadits-hadits Rasulullah n secara individu-individu dan tidak menyaratkan harus diriwayatkan oleh orang yang banyak sekali.<br />
Demikianlah di antara bantahan beliau di dalam menegaskan perlunya menerima Hadits Ahad. </p>
<p>Sedangkan ucapan-ucapan beliau tentang perlunya berpegang teguh kepada As-Sunnah, di antaranya adalah: </p>
<p>“Seseorang sudah pasti kehilangan satu sunnah dari Rasulullah dan akan jauh darinya, maka betapa pun perkataan yang telah aku katakan atau suatu prinsip yang telah aku gariskan di dalamnya yang berasal dari Rasulullah namun bertentangan dengan apa yang aku ucapkan; maka ucapan (yang harus dipegang) adalah apa yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam , dan ia adalah peganganku (pendapatku juga)”. </p>
<p>“Kaum Muslimin bersepakat (secara ijma’) bahwa barangsiapa yang sudah jelas baginya suatu sunnah (hadits) dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam ; maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya lantaran ucapan seseorang”. (Di dalam riwayat yang lain terdapat, “…maka ikutilah ia (hadits tersebut) dan jangan menoleh lagi kepada ucapan/pendapat seseorang”) </p>
<p>“Bila di dalam kitabku kalian mendapatkan hal yang bertentangan dengan sunnah/hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam ; maka berpeganglah dengan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan tinggalkan apa yang telah aku ucapkan (pendapatku) tersebut” </p>
<p>“Bila sesuatu (hadits) shahih, maka ia adalah madzhab/pendapatku </p>
<p>“Kalian (diungkapkan di hadapan Imam Ahmad bin Hanbal dan para shahabatnya-pen) lebih mengetahui perihal hadits dan para periwayatnya daripada aku; bila ada hadits yang shahih, maka beritahukanlah kepadaku apa pun ia, baik (berasal) dari seorang dari Kufah, Bashrah atau Syam, hingga aku bisa menemuinya bila (hadits tersebut memang) shahih” </p>
<p>“Setiap masalah yang di dalamnya terdapat hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam menurut Ahli Hadits (tetapi) bertentangan dengan apa yang aku katakan (pendapatku); maka aku rujuk darinya (mencabut pendapatku dari masalah tersebut), baik selagi aku masih hidup ataupun setelah aku mati” </p>
<p>“Setiap apa yang aku ucapkan (pendapatku); lantas ada hadits dari Nabi n yang shahih bertentangan dengan ucapan/pendapatku tersebut, maka hadits Nabi lebih utama (untuk diikuti) dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku” </p>
<p>“Setiap hadits yang berasal dari Nabi , maka ia adalah ucapan/pendapatku meskipun kalian tidak mendengarnya (langsung) dariku” </p>
<p>Dengan beberapa nukilan ucapan Imam Asy-Syafi’i diatas tentang perlunya berpegang kepada As-Sunnah, kiranya dapat menyentuh hati kita yang paling dalam, sehingga dapat bersikap seperti sikap beliau di dalam menerima hadits yang sudah jelas keshahihannya dan meninggalkan taqlid buta. </p>
<p>Ucapan-ucapan tersebut juga mengisyaratkan bahwa hadits-hadits yang dijadikan hujjah oleh beliau bisa saja kalah kuat dari sisi kualitas dan ketepatan argumentasinya bila diban-ding dengan hadits-hadits yang belum sempat beliau dengar nantinya, dengan menegaskan bahwa hadits yang shahih itulah madzhab beliau, meskipun tidak pernah didengar dari beliau. </p>
<p>Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang diridlai-Nya </p>
<p>(Abu Shofiyyah) </p>
<p>Rujukan:<br />
1). Abady, Abu Ath-Thayyib, Syamsul Haq Al-‘Azhim,’Aun Al-Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud.<br />
2). Abu Zahrah, Muhammad, Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyyah<br />
3). Ad-Daqr, ‘Abdul Ghaniy, Al-Imam Asy-Syafi’iy; Faqih As-Sunnah Al-Akbar.<br />
4). Al-Albany, Muhammad Nashiruddin, Shifatu Shalat An-Nabiy Shallallahu ‘alaihi wasallam<br />
(Diambil dari alsofwah.or.id)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=70&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/imam-asysyafii-pembelannya-terhadap-as-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Imam An-Nawawi Seorang &#8216;Alim Penasehat</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/al-imam-an-nawawi-seorang-alim-penasehat/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/al-imam-an-nawawi-seorang-alim-penasehat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:12:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/al-imam-an-nawawi-seorang-alim-penasehat/</guid>
		<description><![CDATA[Nasab Imam an-Nawawi Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i Kata ‘an-Nawawi’ dinisbatkan kepada sebuah perkampungan yang bernama ‘Nawa’, salah satu perkampungan di Hauran, Syiria, tempat kelahiran beliau. Beliau dianggap sebagai syaikh (soko guru) di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=69&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nasab Imam an-Nawawi </strong></p>
<p>Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i<br />
Kata ‘an-Nawawi’ dinisbatkan kepada sebuah perkampungan yang bernama ‘Nawa’, salah satu perkampungan di Hauran, Syiria, tempat kelahiran beliau. </p>
<p>Beliau dianggap sebagai syaikh (soko guru) di dalam madzhab Syafi’i dan ahli fiqih terkenal pada zamannya. <span id="more-69"></span></p>
<p><strong>Kelahiran dan Lingkungannya</strong> </p>
<p>Beliau dilahirkan pada Bulan Muharram tahun 631 H di perkampungan ‘Nawa’ dari dua orang tua yang shalih. Ketika berusia 10 tahun, beliau sudah memulai hafal al-Qur’an dan membacakan kitab Fiqih pada sebagian ulama di sana. </p>
<p>Proses pembelajaran ini di kalangan Ahli Hadits lebih dikenal dengan sebutan ‘al-Qira`ah’.<br />
Suatu ketika, secara kebetulan seorang ulama bernama Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi melewati perkampungan tersebut dan menyaksikan banyak anak-anak yang memaksa ‘an-Nawawi kecil’ untuk bermain, namun dia tidak mau bahkan lari dari kejaran mereka dan menangis sembari membaca al-Qur’an. Syaikh ini kemudian mengantarkannya kepada ayahnya dan menase-hati sang ayah agar mengarahkan anaknya tersebut untuk menuntut ilmu. Sang ayah setuju dengan nasehat ini. </p>
<p>Pada tahun 649 H, an-Nawawi, dengan diantar oleh sang ayah, tiba di Damaskus dalam rangka melanjutkan studinya di Madrasah Dar al-Hadits. Dia tinggal di al-Madrasah ar-Rawahiyyah yang menempel pada dinding masjid al-Umawy dari sebelah timur.<br />
Pada tahun 651 H, dia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, lalu pulang kembali ke Damaskus.</p>
<p><strong>Pengalaman Intelektualnya </strong></p>
<p>Pada tahun 665 H saat baru berusia 34 tahun, beliau sudah menduduki posisi ‘Syaikh’ di Dar al-Hadits dan mengajar di sana. Tugas ini tetap dijalaninya hingga beliau wafat. </p>
<p>Dari sisi pengalaman intelektualnya setelah bermukim di Damaskus terdapat tiga karakteristik yang sangat menonjol: </p>
<p>Pertama, Kegigihan dan Keseriusan-nya di dalam Menuntut Ilmu Sejak Kecil hingga Menginjak Remaja </p>
<p>Ilmu adalah segala-galanya bagi an-Nawawi sehingga dia merasakan kenikmatan yang tiada tara di dalamnya. Beliau amat serius ketika membaca dan menghafal.<br />
Beliau berhasil menghafal kitab ‘Tanbih al-Ghafilin’ dalam waktu empat bulan setengah. </p>
<p>Sedangkan waktu yang tersisa lainnya dapat beliau gunakan untuk menghafal seperempat permasalahan ibadat dalam kitab ‘al-Muhadz-dzab’ karya asy-Syairazi.<br />
Dalam tempo yang relatif singkat itu pula, beliau telah berhasil membuat decak kagum sekaligus meraih kecintaan gurunya, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghriby, sehingga menjadikannya sebagai wakilnya di dalam halaqah pengajian yang dia pimpin bilamana berhalangan. </p>
<p>Ke dua, Keluasan Ilmu dan Wawasannya </p>
<p>Mengenai bagaimana beliau memanfa’atkan waktu, seorang muridnya, ‘Ala`uddin bin al-‘Aththar bercerita, “Pertama beliau dapat membacakan 12 pelajaran setiap harinya kepada para Syaikhnya beserta syarah dan tash-hihnya; ke dua, pelajaran terhadap kitab ‘al-Wasith’, ke tiga terhadap kitab ‘al-Muhadzdzab’, ke empat terhadap kitab ‘al-Jam’u bayna ash-Shahihain’, ke lima terhadap kitab ‘Shahih Muslim’, ke enam terhadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Ibnu Jinny di dalam ilmu Nahwu, ke tujuh terhadap kitab ‘Ishlah al-Manthiq’ karya Ibnu as-Sukait di dalam ilmu Linguistik (Bahasa), ke delapan di dalam ilmu Sharaf, ke sembilan di dalam ilmu Ushul Fiqih, ke sepuluh terkadang ter-hadap kitab ‘al-Luma’ ‘ karya Abu Ishaq dan terkadang terhadap kitab ‘al-Muntakhab’ karya al-Fakhrur Razy, ke sebelas di dalam ‘Asma’ ar-Rijal’, ke duabelas di dalam Ushuluddin. Beliau selalu menulis syarah yang sulit dari setiap pelajaran tersebut dan menjelaskan kalimatnya serta meluruskan ejaannya”. </p>
<p>Ketiga, Produktif di dalam Menelorkan Karya Tulis </p>
<p>Beliau telah interes (berminat) terhadap dunia tulis-menulis dan menekuninya pada tahun 660 H saat baru berusia 30-an. </p>
<p>Dalam karya-karya beliau tersebut akan didapati kemudahan di dalam mencernanya, keunggulan di dalam argumentasinya, kejelasan di dalam kerangka berfikirnya serta keobyektifan-nya di dalam memaparkan pendapat-pendapat Fuqaha‘. </p>
<p>Buah karyanya tersebut hingga saat ini selalu menjadi bahan perhatian dan diskusi setiap Muslim serta selalu digunakan sebagai rujukan di hampir seluruh belantara Dunia Islam. </p>
<p>Di antara karya-karya tulisnya tersebut adalah ‘Syarh Shahih Muslim’, ‘al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab’, ‘Riyadl ash-Shalihin’, ‘ al-Adzkar’, ‘Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat’ ‘al-Arba’in an-Nawawiyyah’, ‘Rawdlah ath-Thalibin’ dan ‘al-Minhaj fi al-Fiqh’. </p>
<p><strong>Budi Pekerti dan Sifatnya </strong></p>
<p>Para pengarang buku-buku ‘biografi’ (Kutub at-Tarajim) sepakat, bahwa Imam an-Nawawi merupakan ujung tombak di dalam sikap hidup ‘zuhud’, teladan di dalam sifat wara’ serta tokoh tanpa tanding di dalam ‘menasehati para penguasa dan beramar ma’ruf nahi munkar’. </p>
<p>•	Zuhud </p>
<p>Beliau hidup bersahaja dan mengekang diri sekuat tenaga dari kungkungan hawa nafsu. Beliau mengurangi makan, sederhana di dalam berpakaian dan bahkan tidak sempat untuk menikah. Kenikmatan di dalam menuntut ilmu seakan membuat dirinya lupa dengan semua kenikmatan itu. Beliau seakan sudah mendapatkan gantinya. </p>
<p>Di antara indikatornya adalah ketika beliau pindah dari lingkungannya yang terbiasa dengan pola hidup ‘seadanya’ menuju kota Damaskus yang ‘serba ada’ dan penuh glamour. Perpindahan dari dua dunia yang amat kontras tersebut sama sekali tidak menjadikan dirinya tergoda dengan semua itu, bahkan sebaliknya semakin menghindarinya. </p>
<p>•	Wara’ </p>
<p>Bila membaca riwayat hidupnya, maka akan banyak sekali dijumpai sifat seperti ini dari diri beliau. Sebagai contoh, misalnya, beliau mengambil sikap tidak mau memakan buah-buahan Damaskus karena merasa ada syubhat seputar kepemilikan tanah dan kebun-kebunnya di sana. </p>
<p>Contoh lainnya, ketika mengajar di Dar al-Hadits, beliau sebenarnya menerima gaji yang cukup besar, tetapi tidak sepeser pun diambilnya. Beliau justru mengumpulkannya dan menitipkannya pada kepala Madrasah. Setiap mendapatkan jatah tahunannya, beliau membeli sebidang tanah, kemudian mewakafkannya kepada Dar al-Hadits. Atau membeli beberapa buah buku kemudian mewakafkannya ke perpustakaan Madrasah.<br />
Beliau tidak pernah mau menerima hadiah atau pemberian, kecuali bila memang sangat memerlukannya sekali dan ini pun dengan syarat. Yaitu, orang yang membawanya haruslah sosok yang sudah beliau percayai diennya. </p>
<p>Beliau juga tidak mau menerima sesuatu, kecuali dari kedua orangtuanya atau kerabatnya. Ibunya selalu mengirimkan baju atau pakaian kepadanya. Demikian pula, ayahnya selalu mengirimkan makanan untuknya. </p>
<p>Ketika berada di al-Madrasah ar-Rawahiyyah, Damaskus, beliau hanya mau tidur di kamar yang disediakan untuknya saja di sana dan tidak mau diistimewakan atau diberikan fasilitas yang lebih dari itu. </p>
<p>•	Menasehati Penguasa dalam Rangka Amar Ma’ruf Nahi Munkar </p>
<p>Pada masanya, banyak orang datang mengadu kepadanya dan meminta fatwa. Beliau pun dengan senang hati menyambut mereka dan berupaya seoptimal mungkin mencarikan solusi bagi permasalahan mereka, sebagaimana yang pernah terjadi dalam kasus penyegelan terhadap kebun-kebun di Syam. </p>
<p>Kisahnya, suatu ketika seorang sultan dan raja, bernama azh-Zhahir Bybres datang ke Damaskus. Beliau datang dari Mesir setelah memerangi tentara Tatar dan berhasil mengusir mereka. Saat itu, seorang wakil Baitul Mal mengadu kepadanya bahwa kebanyakan kebun-kebun di Syam masih milik negara. Pengaduan ini membuat sang raja langsung memerintahkan agar kebun-kebun tersebut dipagari dan disegel. Hanya orang yang mengklaim kepemilikannya di situ saja yang diperkenankan untuk menuntut haknya asalkan menunjukkan bukti, yaitu berupa sertifikat kepemilikan. </p>
<p>Akhirnya, para penduduk banyak yang mengadu kepada Imam an-Nawawi di Dar al-Hadits. Beliau pun menanggapinya dengan langsung menulis surat kepada sang raja.<br />
Sang Sultan gusar dengan keberaniannya ini yang dianggap sebagai sebuah kelancangan. Oleh karena itu, dengan serta merta dia memerintahkan bawahannya agar memotong gaji ulama ini dan memberhentikannya dari kedudukannya. Para bawahannya tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka dengan menyeletuk, “Sesung-guhnya, ulama ini tidak memiliki gaji dan tidak pula kedudukan, paduka !!”. </p>
<p>Menyadari bahwa hanya dengan surat saja tidak mempan, maka Imam an-Nawawi langsung pergi sendiri menemui sang Sultan dan menasehatinya dengan ucapan yang keras dan pedas. Rupanya, sang Sultan ingin bertindak kasar terhadap diri beliau, namun Allah telah memalingkan hatinya dari hal itu, sehingga selamatlah Syaikh yang ikhlas ini. Akhirnya, sang Sultan membatalkan masalah penyegelan terhadap kebun-kebun tersebut, sehingga orang-orang terlepas dari bencananya dan merasa tentram kembali. </p>
<p><strong>Wafatnya </strong></p>
<p>Pada tahun 676 H, Imam an-Nawawi kembali ke kampung halamannya, Nawa, setelah mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya dari badan urusan Waqaf di Damaskus.<br />
Di sana beliau sempat berziarah ke kuburan para syaikhnya. Beliau tidak lupa mendo’akan mereka atas jasa-jasa mereka sembari menangis. Setelah menziarahi kuburan ayahnya, beliau mengunjungi Baitul Maqdis dan kota al-Khalil, lalu pulang lagi ke ‘Nawa’.<br />
Sepulangnya dari sanalah beliau jatuh sakit dan tak berapa lama dari itu, beliau dipanggil menghadap al-Khaliq pada tanggal 24 Rajab pada tahun itu. Di antara ulama yang ikut menyalatkannya adalah al-Qadly, ‘Izzuddin Muhammad bin ash-Sha`igh dan beberapa orang shahabatnya.<br />
Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan menerima seluruh amal shalihnya. Amin. </p>
<p>(Diambil dari pengantar kitab Nuzhah al-Muttaqin Syarh Riyadl ash-Shalihin karya DR. Musthafa Sa’id al-Khin, et.ali, Jld. I, tentang biografi Imam an-Nawawiy).<br />
(Abu Hafshoh) (disarikan dari Artikel Buletin An-Nur dari  alsofwah.or.id)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=69&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/al-imam-an-nawawi-seorang-alim-penasehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BEBERAPA KESALAHAN FATAL BUKU HARUN YAHYA</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/beberapa-kesalahan-fatal/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/beberapa-kesalahan-fatal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/beberapa-kesalahan-fatal/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Abu Hudzaifah al-Atsari Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah. Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=68&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :<br />
Abu Hudzaifah al-Atsari</p>
<p>Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan<br />
di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah. <span id="more-68"></span></p>
<p>Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.</p>
<p>Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam bab ”The Real Essence of Matter”. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah, terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah wa ‘afiyah. Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.</p>
<p>Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam “Where is God?” (Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :</p>
<p>&#8220;The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about &#8220;where&#8221; God is. Most of them think that God is up in the &#8220;sky&#8221;. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with &#8220;worldly affairs&#8221; once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur&#8217;an it is written that God is everywhere&#8221; but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear &#8220;where&#8221; God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?&#8221;</p>
<p>Yang artinya adalah :</p>
<p>“Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan. Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenai “dimanakah” Tuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas ”Langit”. Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur ”urusan dunia” sesekali waktu. Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali. Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar. Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba. Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi. Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”</p>
<p>Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :</p>
<p>&#8220;Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely &#8220;everywhere&#8221; and encompasses all.</p>
<p>Yang artinya :</p>
<p>“Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah<br />
dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”</p>
<p>Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud.<br />
Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.</p>
<p>Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :</p>
<p>”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)</p>
<p>”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: &#8220;Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.&#8221; (Al-Israa’ : 60)</p>
<p>Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala<br />
sakaratul maut, yaitu :</p>
<p>”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih<br />
dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)</p>
<p>Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa<br />
Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam<br />
Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun<br />
kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)</p>
<p>Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :</p>
<p>&#8220;That is, we cannot perceive Allah&#8217;s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts&#8230;.&#8221;</p>
<p>Yang artinya :</p>
<p>“Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran&#8230;”</p>
<p>Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :</p>
<p>&#8220;That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION&#8221;</p>
<p>Yang artinya :</p>
<p>“Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”</p>
<p>Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :</p>
<p>&#8220;As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the &#8220;external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the &#8220;external world&#8221;. </p>
<p>Yang artinya :</p>
<p>“Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.” </p>
<p>Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.</p>
<p>Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :</p>
<p>1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.</p>
<p>2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.</p>
<p>3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.</p>
<p>Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.</p>
<p>Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRC (International Research Center) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya.</p>
<p>Wallahu a’lam bish showab.</p>
<p>Sumber: Abu Salma</p>
<p>Artikel ini diterima dari</p>
<p>http://dennies-islamiyyah.blogs.friendster.com/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=68&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/22/beberapa-kesalahan-fatal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Pribadi Tentang Blog salafytobat</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/19/pendapat-pribadi-tentang-blog-salafytobat/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/19/pendapat-pribadi-tentang-blog-salafytobat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 22:44:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/19/pendapat-pribadi-tentang-blog-salafytobat/</guid>
		<description><![CDATA[(Oleh Pemilik Blog / Abu Salman) Bismillah, Sementara beliau-beliau yang lebih berilmu, membantah tulisan-tulisan tulisan-tulisan salafytobat dengan ilmu, dasar, bukti serta dalil-dalil yang kuat, maka pemilik blog ini, hendak menyimpulkan secara garis besar dengan pendekatan yang sangat sederhana yang bersifat logis, bahwa pemilik blog salafytobat hendak mengkaburkan opini pembaca tentang kebenaran. Dengan memohon perlindungan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=67&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Oleh Pemilik Blog / Abu Salman)</p>
<p>Bismillah,</p>
<p>Sementara beliau-beliau yang lebih berilmu, membantah tulisan-tulisan tulisan-tulisan salafytobat dengan ilmu, dasar, bukti serta dalil-dalil yang kuat, maka pemilik blog ini, hendak menyimpulkan secara garis besar dengan pendekatan yang sangat sederhana yang bersifat logis, bahwa pemilik blog salafytobat hendak mengkaburkan opini pembaca tentang kebenaran. Dengan memohon perlindungan dan pertolongan dari Alloh Azza wa Jalla penulis hendak mengemukakan sedikit unek-uneknya yang menjadi ganjalan-ganjalan dihatinya karena sepak terjang yang dibuat oleh pemilik blog salafytobat.<span id="more-67"></span></p>
<p><strong>Tentang Nama Pemilik Blog Salafytobat</strong></p>
<p>Sudah menjadi maklum bahwa, setiap tulisan yang ilmiah haruslah dicantumkan dengan jelas siapa yang menulis tulisan tersebut. Begitu juga dengan blog, pembuat blog yang baik dan mempunyai maksud yang baik dalam pembuatan blog tentunya akan menyertakan identitas diri, yang biasanya akan secara khusus dibuat satu halaman atau minimal namanya.<br />
Akan teapi bagaimana dengan pembuat atau pemilik  blog salafytobat? Sudahkah dia mencantumkan identitasnya atau minimal namanya dalam blognya tersebut? Jika tidak, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada para pembaca pengunjung blog salafytobat yang mungkin mengira bahwa apa-apa yang disampaikan dalam blog tersebut benar.<br />
Jika datang kepada anda orang yang tidak anda kenal, kemudian memberitahukan sesuatu hal penting dalam hidup anda, apakah anda serta merta akan mempercayainya tanpa meneliti lebih dulu, padahal jika anda salah dalam hal tersebut maka bukan hanya dunia anda jaminannya tapi akhirat juga? Pertanyaan saya selanjutnya, apakah anda juga akan mempercayai apa-apa yang disampaikan oleh pemilik blog salafytobat padahal anda belum mengenalnya, belum mengetahui kapasitas keilmuannya? </p>
<p><strong>Seorang Penyampai Kebenaran Tidak Akan Melakukan Cara Yang Memalukan Untuk Menyampaikan “Kebenaran”</strong></p>
<p>Kebenaran adalah sesuatu yang baik dan mulia, tentu dia harus disampaikan dengan cara yang baik pula. Lantas bagaimana menurut anda jika ada pihak yang mengatakan sebuah “kebenaran” (itu adalah anggapan dari pemilik blog salafytobat) dengan menggunakan nama pihak lain, yang mana apa yang disampaikan itu bertolak belakang dengan apa yang diyakini oleh pihak yang namanya digunakan tersebut? Itulah yang dilakukan oleh pemilik blog salafytobat.<br />
Berapa waktu yang lalu melalui email yang saya terima dari milis Assunnah, ada beberapa teman yang membagi pengalamannya, bahwa mereka telah mendapat email dari admin Assunnah dan Darussalaf akan tetapi isinya sangat berkebalikan dengan apa yang selama ini disampaikan oleh kedua situs tersebut, pada akhirnya diketahui bahwa email tersebut bukan berasal dari Assunnah dan Darussalaf akan tetapi dari pemilik blog salafytobat yang mana dia telah membuat alamat email palsu yang disamakan atau dibuat mirip dengan email admin Assunah dan Darussalaf.<br />
Pertanyaan saya selanjutnya, metode penyampaian kebenaran macam apa yang digunakan oleh pemilik blog salafytobat ini? Apakah hal ini tidak memalukan? Jika kenyataanya sudah seperti ini, apakah kita akan masih mau mendengar omongannya, membaca tulisannya atau menyempatkan diri membuka blognya? Rasanya semua itu hanya membuang waktu saja.<br />
Sekiranya hanya itu uneg-uneg dari saya, saya hanya manusia biasa banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tidak berhak berpendapatkan? Diatas adalah pendapat saya, silahkan kritik pendapat saya, saya akan berlapang dada menerimanya.<br />
Jika ada yang benar dari tulisan saya diatas, maka itu datangnya adalah dari Alloh Azza wa Jalla, jika terdapat kesalahan itu datangnya d</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=67&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/19/pendapat-pribadi-tentang-blog-salafytobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGERTIAN WAHABI DAN SIAPA MUHAMMAD BIN ADBUL WAHHAB</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/15/pengertian-wahabi-dan-siapa-muhammad-bin-adbul-wahhab/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/15/pengertian-wahabi-dan-siapa-muhammad-bin-adbul-wahhab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 22:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Orang-orang biasa menuduh &#8220;wahabi &#8221; kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid&#8217;ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur&#8217;anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo&#8217;a (memohon) hanya kepada Allah semata. Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=62&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</p>
<p>Orang-orang biasa menuduh &#8220;wahabi &#8221; kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid&#8217;ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur&#8217;anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo&#8217;a (memohon) hanya kepada Allah semata.</p>
<p>Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba&#8217;in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi.</p>
<p>&#8220;Artinya : Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepa-da Allah.&#8221; [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]</p>
<p>Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau mengatakan, &#8220;Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya -menurut tradisi- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela.&#8221;<span id="more-62"></span></p>
<p>Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, &#8220;Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah.&#8221; Ia lalu menyergah, &#8220;Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!&#8221;</p>
<p>Penulis lalu bertanya, &#8220;Apa dalil anda?&#8221; Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, &#8220;Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa&#8217;d![1]&#8221; dan Aku bertanya padanya, &#8220;Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa&#8217;d dapat memberi manfaat kepadamu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku berdo&#8217;a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku.&#8221;</p>
<p>Lalu penulis berkata, &#8220;Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu.&#8221;</p>
<p>Ia lalu berkata, &#8220;Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi.&#8221;</p>
<p>Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, &#8220;Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya.&#8221;</p>
<p>Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh.&#8221;</p>
<p>Kemudian penulis tanyakan jama&#8217;ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.</p>
<p>Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, &#8220;Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu&#8217; (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati).&#8221;</p>
<p>Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan.&#8221;, dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa membuka khutbah dan pelajarannya.</p>
<p>Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur&#8217;anul Karim dan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, &#8220;Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.[2]. Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.&#8221; [Al-Hujurat: 11]</p>
<p>Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi&#8217;i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, &#8220;Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah.&#8221;</p>
<p>Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, &#8220;Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi.&#8221;</p>
<p>Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, &#8220;Inilah syaikh yang sesungguhnya!&#8221;</p>
<p>PENGERTIAN WAHABI<br />
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa&#8217;ul Husnaa).</p>
<p>Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama&#8217;ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.</p>
<p>MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB<br />
Beliau dilahirkan di kota &#8216;Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur&#8217;an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid&#8217;ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.</p>
<p>Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, &#8220;Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.&#8221;</p>
<p>Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.</p>
<p>Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo&#8217;a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur&#8217;an dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Al-Qur&#8217;an menegaskan:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa&#8217;at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.&#8221; [Yunus : 106]</p>
<p>Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:</p>
<p>&#8220;Artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.&#8221; [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo'a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.</p>
<p>[1]. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya<br />
Para ahli bid&#8217;ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.&#8221; [Shaad : 5]</p>
<p>Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.</p>
<p>Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima[3], padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.</p>
<p>Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab â€“rahimahullah- telah menulis kitab &#8220;Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam &#8220;. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu â€˜alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.</p>
<p>Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur&#8217;an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.</p>
<p>Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.</p>
<p>[2]. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan:</p>
<p>&#8221; Artinya : Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, &#8216;Dan di negeri Nejed.&#8217; Rasulullah berkata, &#8216;Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan.&#8221; [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Ibnu Hajar Al-&#8217;Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali Radhiyallahu anhuma dibunuh.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.</p>
<p>[3]. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan<br />
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang &#8220;Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah&#8221;, di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin &#8216;Irfan.</p>
<p>Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama&#8217;ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.</p>
<p>Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah[4] agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid&#8217;ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo&#8217;a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma&#8217;ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.</p>
<p>[Disalin dari kitab Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah, edisi Indonesia Jalan Golongan Yang Selamat, Penulis Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Penerjemah Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Penerbit Darul Haq]<br />
________<br />
Foote Note<br />
[1]. Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Saâ€™d yang dikuburkan di dalam masjidnya.<br />
[2]. Orang-orang Salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para Salafus Shalih. Yaitu Rasulullah Shallallahu â€˜alaihi wa sallam, para sahabat dan tabiâ€™in<br />
[3].Sebab yang terkenal dalam dunia Fiqih hanya ada empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafiâ€™i dan Hambali.<br />
[4]. Kaum Murtaziqoh yaitu orang-orang bayaran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=62&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/15/pengertian-wahabi-dan-siapa-muhammad-bin-adbul-wahhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/15/syaikh-muhammad-nasiruddin-al-albani/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/15/syaikh-muhammad-nasiruddin-al-albani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 22:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah salah seorang imam Ahlus Sunnah abad ini, yang mengorbankan seluruh hidupnya demi mengabdikan diri kepada Allah, seorang laki-laki agung yang namanya telah memenuhi cakrawala. Beliau tidak saja dikenal sebagai seorang ulama ahli hadits, akan tetapi beliau juga salah seorang di antara barisan para ulama yang mendapat predikat sebagai pembaharu Islam (Mujaddid al-Islam). Nama, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=59&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beliau adalah salah seorang imam Ahlus Sunnah abad ini, yang mengorbankan seluruh hidupnya demi mengabdikan diri kepada Allah, seorang laki-laki agung yang namanya telah memenuhi cakrawala. Beliau tidak saja dikenal sebagai seorang ulama ahli hadits, akan tetapi beliau juga salah seorang di antara barisan para ulama yang mendapat predikat sebagai pembaharu Islam (Mujaddid al-Islam).</p>
<p><strong>Nama, Kelahiran dan Pertumbuhan Syaikh al-Albani</strong></p>
<p>Beliau adalah Muhammad Nashiruddin bin Nuh, dikenal dengan kuniah Abu Abdurrahman. Beliau lahir tahun 1914 M di tengah sebuah keluarga yang sangat sederhana dan sibuk dengan ilmu agama, di ibu kota Albania. Bapaknya, Haji Nuh, adalah salah seorang ulama besar Albania kala itu; yang pernah menuntut ilmu di Istambul, Turki, kemudian kembali ke Albania untuk mengajarkan ilmu dan berdakwah.<span id="more-59"></span><br />
Lingkungan keluarga yang menaungi Syaikh al-Albani ketika masih kanak-kanak, penuh dengan cahaya Islam, yang tampak sangat terjaga dalam setiap sisi.<br />
Hijrah Demi Melindungi Agama<br />
Ketika Ahmad Zogo menjadi raja Albania, dia mulai melancarkan berbagai perubahan aturan sosial yang revolusioner bagaikan hantaman hebat yang menggoncangkan pondasi-pondasi lingkungan Islami tersebut. Karena tindakan yang dilakukan oleh raja Ahmad Zogo tersebut sama dengan apa yang dilakukan oleh thaghut Turki, Mustafa Ataturk; di mana para wanita Albania diharuskan menanggalkan hijabnya, sehingga rangkaian fitnah dan malapetaka pun tak terhindarkan. Sejak saat itu, mulailah kaum muslimin yang mengkhawatirkan agama mereka, berhijrah ke berbagai negeri. Termasuk di antara yang paling pertama hijrah adalah keluarga Syaikh Haji Nuh, yang membawa agama dan keluarganya ke Suria. Termasuk di dalamnya, sang Imam kecil, Muhammad Nashiruddin al-Albani.<br />
Al-Albani Mulai Menuntut Ilmu<br />
Di Damaskus, lelaki kecil Muhammad Nashiruddin mulai menimba ilmu dengan mempelajari Bahasa Arab di Madrasah Jam’iyah al-Is’af al-Hairi. Di sanalah beliau mulai menapaki dunia ilmu dan kemudian mendaki kemuliaan sebagai seorang alim.<br />
Orang yang paling pertama menanamkan pengaruhnya adalah bapaknya sendiri, Haji Nuh, yang merupakan salah seorang ulama Madzhab Hanafi kala itu. Dan untuk beberapa lama beliau mengikuti taqlid madzhabi yang diajarkan bapaknya. Akan tetapi hidayah Allah selalu datang kepada orang yang dikehendakiNya kebaikan pada dirinya. Dan kemudian beliau muncul sebagai seorang yang tidak terkekang oleh Madzhab tertentu.<br />
Begitulah al-Albani muda ini muncul sebagai seorang pemuda yang unggul dalam kajian hadits, yang pindah dari satu majelis pengajian ke majelis lainnya demi menimba ilmu.<br />
Semua sepak terjang beliau dalam mencari ilmu tadi, berbarengan dengan kehidupan beliau yang sangat pas-pasan. Sehingga untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari, beliau bergelut sebagai seorang tukang (servis) jam, dan beliau dikenal sangat ahli dalam pekerjaan tersebut. Dan semua itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk menjadi seorang alim yang besar di kemudian hari.<br />
<strong>Menjadi Guru Besar di Universitas Islam Madinah</strong><br />
Berkat jerih payah dan keuletan sang Imam -dan tentu karena taufik dari Allah-, sejumlah karya tulis beliau mulai terbit dari tangan beliau dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, akidah dan lainnya, terlebih dalam ilmu hadits yang memang merupakan spesifikasi beliau; yang menunjukkan kepada dunia ilmiah, luasnya ilmu yang telah Allah anugerahkan kepada beliau; berupa pemahaman yang shahih, ilmu yang luas, dan kajian yang dalam tentang hadits, dari berbagai sisinya. Ditambah lagi dengan manhaj beliau yang lurus, yang menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai tolak ukur dan dasar dalam segala sesuatu. Semua itu menjadikan sang Imam muncul sebagai sosok yang fenomenal, menjadi rujukan ahli ilmu dan dengan cepat keutamaan yang ada pada diri beliau dikenal oleh berbagai kalangan. Maka ketika Universitas Islam Madinah mulai dirintis, yang dipelopori oleh Syaikh al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, yang saat itu adalah Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh al-Albani langsung menjadi pilihan untuk menjadi guru besar Bidang Studi Hadits di sana.<br />
Di sana sang Imam sempat mengajar, dengan berbagai suka dan duka, selama tiga tahun. Dalam masa-masa itu, beliau adalah figur dan teladan dalam keuletan, kesungguhan dan keikhlasan mengabdi, sampai sering kali, pada waktu istirahat di antara mata pelajaran, beliau ikut serta duduk di tengah para mahasiswa di atas pasir demi menjawab pertanyaan dan berdiskusi dengan murid-murid beliau.<br />
Beliau adalah seorang yang sangat rendah hati, sehingga di tengah para mahasiswanya, beliau bagaikan salah seorang di antara mereka. Tak heran bila mobil pribadi beliau yang sederhana selalu dipenuhi oleh para murid-murid beliau yang selalu ingin mengambil faidah dari beliau. Kedekatan dan keakraban beliau dengan para mahasiswa dan ketergantungan mereka kepada beliau, adalah bukti bahwa pengajaran-pengajaran beliau memang menuai berkah di sana.<br />
Di antara kenangan dan berkah yang masih tersisa sampai saat ini di Universitas Islam Madinah adalah metodologi kuliah yang beliau sampaikan dalam sub disiplin “IImu Isnad”. Beliau mengajarkan bidang ini dengan metode, memilih hadits dari Shahih Muslim misalnya, lalu menuliskannya di papan tulis lengkap dengan sanad. Berikutnya beliau membawa kitab-kitab biografi rawi-rawi hadits, lalu menjelaskan kepada para mahasiswa tentang metodologi kritik rawi dan metodologi takhrij hadits, serta segala hal yang berkaitan dengannya.<br />
Pengajaran Ilmu Isnad yang dirintis oleh beliau ini, menempatkan sosok beliau sebagai guru yang paling pertama menetapkan sub disiplin ini sebagai mata pelajaran di perguruan tinggi, dan itu yang paling pertama di dunia. Dan ketika sang imam meninggalkan Universitas Islam Madinah untuk menetap di Yordania, metodologi pengajaran ini terus dijalankan oleh para dosen yang menggantikan beliau.<br />
<strong>Menjadi Imam Para Ulama Ahli Hadits Abad Ini</strong><br />
Begitu banyaknya karya tulis dan hasil-hasil studi beliau dalam disiplin ilmu hadits; yang dikenal dengan kesimpulan-kesimpulan yang detil dan cermat, menjadikan beliau sebagai rujukan para ulama dan para penuntut ilmu di berbagai Negara Islam. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk mengambil faidah dari berkah ilmu beliau.<br />
Berikut ini beberapa hal yang menggambarkan kedudukan tinggi beliau:<br />
1. Beliau terpilih sebagai anggota pada dewan kajian hadits yang dibentuk oleh Mesir dan Suria, untuk memimpin komite publikasi kitab-kitab sunnah.<br />
2. Menjadi guru besar bidang studi hadits diUniversitas Islam Madinah, seba¬gaimana yang telah disinggung. Bahkan kemudian beliau dipilih sebagai anggota dewan rektor di univěrsitas yang sama peiode 1381-1383 H.<br />
3. Beliau pernah diminta menjadi guru besar di Universitas as-Salafiyah, India, tapi beliau tidak menyanggupi.<br />
4. Beliau juga pemah diminta oleh Menteri wakaf Saudi Arabia, Syaikh Hasan Abdullah Alu asy-Syaikh, untuk menjadi guru besar ilmu hadits di Universitas Makkah al-Mukarramah.<br />
5. Oleh Raja Khalid bin Abdul Aziz, raja Saudi Arabia, beliau terpilih kembali sebagai anggota dewan rektor Universitas Islam Madinah periode 1395¬1398 H.<br />
6. Perpustakaan azh-Zhahiriyah, di Damaskus, mengkhususkan satu ruang tersendiri untuk Syaikh, demi memudahkan studi dan penelitian beliau. Dan ini tidak pernah terjadi bagi seorang pun sebelum beliau.<br />
Pujian Para Ulama<br />
1. Sikap hormat Syaikh al-Allamah Muhammad Amin asy-Syinqithi ‘ rahimahullah -yang dikenal sebagai seorang ahli tafsir yang tidak ada bandingannya di zamannya- yang tidak lazim kepada Syaikh al-Albani, di mana saat beliau melihat al-Albani berlalu padahal beliau tengah mengajar di Masjid Nabawi, beliau menyempatkan berdiri untuk mengucapkan salam kepada al-Albani, demi menghormatinya.<br />
2. Pujian al-Allamah Muhibbuddin al-Khathib rahimahullah “Di antara para dai kepada as-Sunnah, yang menghabiskan hidupnya demi bekerja keras untuk menghidupkannya, adalah saudara kami Abu Abdurrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Najati al-Albani.”<br />
3. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh rahimahullah pernah menyebut al-Albani dengan pujian, “Beliau adalah Ahli Sunnah, pembela kebenar¬an dan musuh yang menghantam para pengikut kebatilan.”<br />
4. Pujian Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah “Saya tidak pernah melihat seorang ulama di bawah kolong langit ini, di abad modern ini seperti al-Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani.”<br />
5. Pujian Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, “Yang saya ketahui tentang Syaikh, dari pertemuan saya dengan beliau -dan itu sangat sedikit¬ bahwa beliau sangat teguh di dalam mengamalkan as-Sunnah dan meme¬rangi bid’ah, baik dalam akidah maupun amaliyah. Dan dari telaah saya terhadap karya tulis beliau, saya mengatahui bahwa beliau memiliki ilmu yang luas di dalam hadits, riwayat maupun dirayat. Dan bahwasanya Allah memberikan manfaat yang banyak dari karya tulis beliau, baik dari segi ilmu maupun metodologi….”<br />
Dan begitu banyak pujian yang beliau terima, yang tidak mungkin disebut seluruhnya dalam lembaran biografi singkat ini.<br />
Karya Tulis Sang Imam<br />
Berkah hidup dan sumbangsih sang imam kepada dunia Islam, tidak saja berupa dakwah kepada al-Qur an dan as-Sunnah berdasarkan manhaj as-Salaf ash-Shalih, yang memenuhi cakrawala dan menghentakkan para pengikut kesesatan. Tapi juga meninggalkan karya tulis yang di dalamnya tertuang hasil-hasil studi ilmiah yang tidak kita dapatkan dalam karya tulis lain. Karya tulis beliau yang telah tercetak tidak kurang dari 119 buah, baik yang berupa ta’lif atau takhrij. Bahkan masih banyak yang masih berbentuk manuskrip.<br />
Berikut ini di antara karya tulis beliau:<br />
1. Adab az-Zafaf<br />
2. Al-Ayat al-Bayyinat Fi Adami Sima’i al-Amwat<br />
3. Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘An As’ilah Lajnah Masjid al-Jami’ah<br />
4. Ahkam al-Jana’iz<br />
5. Irwa’ al-Ghalil Fi Takhrij Ahadits Manar as-Sabil<br />
6. Tahdzir as-Sajid Min Ittikhadz al-Qubur Masajid<br />
7. Tahrim Alat ath-Tharb<br />
8. Shifah Shalati an-Nabi Min at-Takbir Ila at-Taslim<br />
9. Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah Wa al-Maudhu’ah<br />
10. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah<br />
11. At-Tawassul Anwa’uhu Wa Ahkamuhu, dan lain-lain.<br />
Dan ketika menjelang ajal, beliau berwasiat agar seluruh perpustakaan pribadinya dihibahkan ke Universitas Islam Madinah.<br />
Beliau wafat pada hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H. Jenazah beliau dipersaksikan dengan iringan ribuan para pelayat dari berbagai negeri. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada sang imam, yang telah berjasa besar meng¬gaungkan kembali dakwah as-Salafiyah di abad ini.<br />
Sumber: Terjemahan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib yang disusun dan ditakhrij oleh beliau.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=59&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/06/15/syaikh-muhammad-nasiruddin-al-albani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Palestina</title>
		<link>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/02/15/pelajaran-dari-palestina/</link>
		<comments>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/02/15/pelajaran-dari-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 00:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thesystemseeker</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/02/15/pelajaran-dari-palestina/</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Amma Ba’du Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris. Ya Allah, alangkah murah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=39&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang<br />
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh<br />
Amma Ba’du<br />
Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.<br />
Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].<br />
Maha suci Allah, betapa menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak rumah-rumah yang dihancurkan.<br />
Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang dia suka.” (QS. al-Maa’idah [5]: 64)<br /><span id="more-39"></span><br />
Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61)<br />
Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163)<br />
Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza Palestina:&lt;br <!--more-->/&gt;<br />
Pelajaran Pertama<br />
Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai orang-orang kafir berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).<br />
Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul ‘Surat-surat kepada gerakan HAMAS’ http://www.islamancient.com/lectures,item,346.html, yang disampaikan oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]<br />
Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)<br />
Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da’i yang lembek. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54)<br />
Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para da’i ila Allah -namun itu adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang jelas-jelas telah mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah Masihiyyin (pengikut Isa).<br />
Pelajaran Kedua<br />
Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ [http://www.islamancient.com/books,item,50.html].<br />
Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.<br />
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165). Allah juga berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41). Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.<br />
Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.” (QS. an-Nuur [24]: 55). Ini adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum [30]: 6)<br />
Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah. Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin [http://www.islamancient.com/books,item,70.html].<br />
Dahulu saya telah memberikan nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?!].<br />
Pelajaran Ketiga<br />
Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih perdamaian ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya. Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul ‘al-Jihad baina al-ghuluw wa al-Jafaa’ [http://www.islamancient.com/lectures,item,550.html]<br />
Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza. Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh Yahudi, pent].<br />
Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.<br />
Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan kita. Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.<br />
Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377] berkata, “Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi’ah- justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf (dikenal) yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” Selesai ucapan beliau.<br />
Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent]. Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip, pent]. Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.<br />
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh<br />
Abdul Aziz bin Rays ar-Rays<br />
Pengawas situs al-Islam al-’Atieq<br />
http://www.islamancient.com<br />
Permulaan tahun 1430 H<br />
diterjemahkan dari:<br />
Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah<br />
http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html<br />
***<br />
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesystemseeker.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesystemseeker.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesystemseeker.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesystemseeker.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesystemseeker.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesystemseeker.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesystemseeker.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesystemseeker.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesystemseeker.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesystemseeker.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesystemseeker.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesystemseeker.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesystemseeker.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesystemseeker.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesystemseeker.wordpress.com&amp;blog=6378406&amp;post=39&amp;subd=thesystemseeker&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesystemseeker.wordpress.com/2009/02/15/pelajaran-dari-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a6a0fbe3713963fe8ca32eb0b37addcc?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thesystemseeker</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
